Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat, tentunya mendorong mahasiswa untuk memiliki kemampuan (skill) yang lebih dari yang lainnya. Maraknya pemanfaatan internet, baik social media, website, hingga blog, mendorong kita untuk turut mengambil peran agar kita tidak 'gaptek'.
Maka dari itu, kami dari Divisi Media dan Informasi bekerjasama dengan Biro Sistem Informasi UMY mengadakan Training "Study in Blog", pelatihan ini dimaksudkan untuk membuat mahasiswa yang sama sekali belum mengenal blog menjadi mengenal dan mengerti cara penggunaan blog, dan apabila mahasiswa sudah menggunakan blog kita arahkan untuk memahami pemanfaatan blog.
Pelaksanaan kegiatan 13, 15, dan 17 Desember 2011 yang terbagi atas 2 sesi pelatihan setiap harinya. Kegiatan ini diselenggarakan di Pusat Komputer Gd. Ar-Fachruddin B Lantai 2 Kampus Terpadu UMY. Dengan kontribusi Rp. 5000, peserta pelatihan telah mendapatkan fasilitas snack dan sertifikat. Dengan pemateri yang berasal dari Tim Biro Sistem Informasi UMY.
Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Desember 2011
Training "Study in Blog" BEM FISIPOL UMY
Sabtu, 17 Desember 2011
Busyro Kampanye Vonis Mati Koruptor
RMOL. Pimpinan KPK, Busyro Muqoddas bersikukuh UU KPK tak perlu direvisi, kalaupun terpaksa harus direvisi, jangan sampai menghapus pasal hukuman mati bagi koruptor.
Busyro berharap, pasal yang menyangkut hukuman mati koruptor tetap dipertahankan. “Tindakan korupsi merupakan tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang membuat rakyat mati secara perlahan, sehingga layak dipertahankan,” ujarnya di Yogyakarta, kemarin.
Busyro mengakui, meski ada pasal hukuman mati terhadap koruptor, selama ini KPK belum pernah menuntut terdakwa koruptor dengan hukuman mati. “Untuk melakukan tuntutan hukuman mati memang tidak gegabah, di antaranya mengenai besaran korupsinya, usia terdakwanya dan sebagainya,” paparnya.
Mejawab kelompok yang anti-hukuman mati, Busyro menyebut beberapa negara yang masih memberlakukan hukuman mati, seperti Amerika Serikat. “Pasal-pasal pada Undang-undang Tipikor yang perlu direvisi itu cukup banyak. Hanya saja, hukuman mati bagi koruptor harus tetap dipertahankan,” kata Busyro.
Kendati demikian,”Busyro mengatakan, KPK masih nyaman dengan UU KPK yang berlaku sekarang ini. Karena itu, tidak perlu ada upaya revisi terhadap UU KPK.
“Jika direvisi, justru dikhawatirkan akan mengganggu kinerja KPK sekarang. Selain itu, revisi akan mengundang reaksi keras dari kalangan masyarakat dan intelektual,” ujarnya.
Pengamat Politik, Burhanuddin Muhtai menyoroti kinerja penegak hukum yang hanya mampu menyeret tokoh figuran, sementara sutradara, penulis skenario kasus korupsi tetap tak terjangkau. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikit para politisi dan pemimpin negara yang mau mengungkapkan skandal korupsi, karena langkah tersebut mengandung sejuta risiko.
Padahal, kata Burhanuddin, ada politisi dan pemimpin negara yang sebenarnya memiliki kesadaran untuk mengungkap kasus korupsi. Namun, mereka perlu diberi insentif ketika berhasil mengungkap skandal korupsi. “Hal itu bisa berupa insentif elektoral,” kata Burhan, di Jakarta, kemarin.
Burhan mengatakan, sepanjang tak ada insentif, para politisi dan juga pemimpin negara akan larut dengan kebutuhan jangka pendek, modal pemilu beserta kemenangannya. Para politisi atau pemimpin negara akan tetap masuk ke area abu-abu untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya dan atau partainya.
Wakil Ketua DPD, La Ode Ida menyoroti peran media dalam pemberantasan korupsi. Menurutnya, media perlu mempublikasikan politisi, pemimpin, atau partai politik yang berhasil memberantas korupsi.
“Ini kontribusi media massa kepada masyarakat untuk penciptaan negara bersih,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/18/49337/Busyro-Kampanye-Vonis-Mati-Koruptor-
Busyro berharap, pasal yang menyangkut hukuman mati koruptor tetap dipertahankan. “Tindakan korupsi merupakan tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang membuat rakyat mati secara perlahan, sehingga layak dipertahankan,” ujarnya di Yogyakarta, kemarin.
Busyro mengakui, meski ada pasal hukuman mati terhadap koruptor, selama ini KPK belum pernah menuntut terdakwa koruptor dengan hukuman mati. “Untuk melakukan tuntutan hukuman mati memang tidak gegabah, di antaranya mengenai besaran korupsinya, usia terdakwanya dan sebagainya,” paparnya.
Mejawab kelompok yang anti-hukuman mati, Busyro menyebut beberapa negara yang masih memberlakukan hukuman mati, seperti Amerika Serikat. “Pasal-pasal pada Undang-undang Tipikor yang perlu direvisi itu cukup banyak. Hanya saja, hukuman mati bagi koruptor harus tetap dipertahankan,” kata Busyro.
Kendati demikian,”Busyro mengatakan, KPK masih nyaman dengan UU KPK yang berlaku sekarang ini. Karena itu, tidak perlu ada upaya revisi terhadap UU KPK.
“Jika direvisi, justru dikhawatirkan akan mengganggu kinerja KPK sekarang. Selain itu, revisi akan mengundang reaksi keras dari kalangan masyarakat dan intelektual,” ujarnya.
Pengamat Politik, Burhanuddin Muhtai menyoroti kinerja penegak hukum yang hanya mampu menyeret tokoh figuran, sementara sutradara, penulis skenario kasus korupsi tetap tak terjangkau. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikit para politisi dan pemimpin negara yang mau mengungkapkan skandal korupsi, karena langkah tersebut mengandung sejuta risiko.
Padahal, kata Burhanuddin, ada politisi dan pemimpin negara yang sebenarnya memiliki kesadaran untuk mengungkap kasus korupsi. Namun, mereka perlu diberi insentif ketika berhasil mengungkap skandal korupsi. “Hal itu bisa berupa insentif elektoral,” kata Burhan, di Jakarta, kemarin.
Burhan mengatakan, sepanjang tak ada insentif, para politisi dan juga pemimpin negara akan larut dengan kebutuhan jangka pendek, modal pemilu beserta kemenangannya. Para politisi atau pemimpin negara akan tetap masuk ke area abu-abu untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya dan atau partainya.
Wakil Ketua DPD, La Ode Ida menyoroti peran media dalam pemberantasan korupsi. Menurutnya, media perlu mempublikasikan politisi, pemimpin, atau partai politik yang berhasil memberantas korupsi.
“Ini kontribusi media massa kepada masyarakat untuk penciptaan negara bersih,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/18/49337/Busyro-Kampanye-Vonis-Mati-Koruptor-
Di HI, Anis Hidayah Beberkan Penderitaan TKI di Luar Negeri
RMOL. Sepanjang tahun 2011 wajah negeri ini terus diharu-birukan oleh derita buruh migran Indonesia yang mengalami penangkapan, aksi kekerasan, pengusiran, perkosaan bahkan kematian di luar negeri. Yang paling mengharukan tentu saja pemancungan Ruyati di Arab Saudi, beberapa waktu lalu
"Eksekusi pemancungan terhadap Ruyati membuka kotak pandora ratusan kasus buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati di berbagai negara yang selama ini ditutup-tutupi," ujar Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah dalam orasinya di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (18/12).
Pagi ini Migrant Care bersama keluarga Tenaga Kerja Indonesia yang terancam mendapat hukuman mati di luar negeri menggelar aksi damai di kawasan tersebut.
Anis menambahkan, sampai sekarang buruh migran yang mengalami berbagai kasus masih banyak dan belum juga diselesaikan oleh pemerintah baik itu lewat Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, maupun Kementerian Luar Negeri.
"Tercatat 417 terancam hukuman mati; 1 orang menunggu eksekusi mati; kekerasan fisik 3 ribu lebih; kekerasan seksual 1.234 orang; meninggal dunia 1.203 orang," beber Anis.
Data tersebut, menurut Anis tidak termasuk TKI overstayer di Saudi Arabia, kerja tidak layak, gaji tidak dibayar dan terancam deportasi dari Malaysia. Dari data Migrant Care, lanjutnya, sampai saat ini 228.193 buruh migran Indonesia menghadapi masalah di luar negeri.
"Pemerintah Indonesia mestinya harus berani mengambil langkah konkret bukan saling lempar tanggungjawab untuk mereformasi penempatan perlindungan yang berstandar HAM bagi buruh migran secara komprehensif dan radikal," demikian Anis.
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/18/49349/Di-HI,-Anis-Hidayah-Beberkan-Penderitaan-TKI-di-Luar-Negeri-
"Eksekusi pemancungan terhadap Ruyati membuka kotak pandora ratusan kasus buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati di berbagai negara yang selama ini ditutup-tutupi," ujar Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah dalam orasinya di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (18/12).
Pagi ini Migrant Care bersama keluarga Tenaga Kerja Indonesia yang terancam mendapat hukuman mati di luar negeri menggelar aksi damai di kawasan tersebut.
Anis menambahkan, sampai sekarang buruh migran yang mengalami berbagai kasus masih banyak dan belum juga diselesaikan oleh pemerintah baik itu lewat Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, maupun Kementerian Luar Negeri.
"Tercatat 417 terancam hukuman mati; 1 orang menunggu eksekusi mati; kekerasan fisik 3 ribu lebih; kekerasan seksual 1.234 orang; meninggal dunia 1.203 orang," beber Anis.
Data tersebut, menurut Anis tidak termasuk TKI overstayer di Saudi Arabia, kerja tidak layak, gaji tidak dibayar dan terancam deportasi dari Malaysia. Dari data Migrant Care, lanjutnya, sampai saat ini 228.193 buruh migran Indonesia menghadapi masalah di luar negeri.
"Pemerintah Indonesia mestinya harus berani mengambil langkah konkret bukan saling lempar tanggungjawab untuk mereformasi penempatan perlindungan yang berstandar HAM bagi buruh migran secara komprehensif dan radikal," demikian Anis.
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/18/49349/Di-HI,-Anis-Hidayah-Beberkan-Penderitaan-TKI-di-Luar-Negeri-
Jumat, 16 Desember 2011
Mari Lanjutkan Perjuangan Sondang
RMOL. Aksi bakar diri Sondang di depan kantor SBY, Istana Negara, Jakarta membuktikan bahwa perjuangan menentang rezim korup SBY-Boediono kuat disuarakan anak bangsa. Anak bangsa tak mau negara hancur dibawah pemimpin yang korup.
"Kita berjanji meneruskan perjuangan Sondang," pekik Fiqi Fadil, mahasiswa Universitas Setya Negara Indonesia (Usni), Jakarta. Fadil dan mahasiswa Usni lainnya menggelar aksi solidaritas untuk Sondang di depan kampus, Usni, Kebayoran, siang ini (Kamis, 15/12).
"Sondang pahlawan. Mari lanjutkan perjuangan Sondang," seru Fadil.
Tak ada alasan untuk tidak meneruskan perjuangan Sondang. Anak bangsa, kata Fadli, mengingatkan SBY-Boediono, tak rela negara hancur.
"SBY-Boediono sudah gagal," seru Fadli disambut teriakan "Betul" peserta aksi lainnya. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/15/49075/Mari-Lanjutkan-Perjuangan-Sondang-
"Kita berjanji meneruskan perjuangan Sondang," pekik Fiqi Fadil, mahasiswa Universitas Setya Negara Indonesia (Usni), Jakarta. Fadil dan mahasiswa Usni lainnya menggelar aksi solidaritas untuk Sondang di depan kampus, Usni, Kebayoran, siang ini (Kamis, 15/12).
"Sondang pahlawan. Mari lanjutkan perjuangan Sondang," seru Fadil.
Tak ada alasan untuk tidak meneruskan perjuangan Sondang. Anak bangsa, kata Fadli, mengingatkan SBY-Boediono, tak rela negara hancur.
"SBY-Boediono sudah gagal," seru Fadli disambut teriakan "Betul" peserta aksi lainnya. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/15/49075/Mari-Lanjutkan-Perjuangan-Sondang-
Romo Magnis Beberkan Penyebab Sakit Hati Rakyat
RMOL. Kegagalan demi kegagalan yang dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai kasus menjadikan rakyat jengah dan sakit hati. Akibatnya, rakyat mempertanyakan kredibilitas presiden dalam memimpin negara.
Demikian disampaikan rohaniawan Frans Magnis Suseno, saat menjadi pembicara dalam diskusi yang di gelar Organisasi Liga Mahasiswa Nusantara (Limantara) di Jakarta (Jumat malam, 16/12).
Franz mengatakan, ada banyak faktor yang memicu krisis kepercayaan. Salah satunya adalah ketidakjelasan dalam menegakkan hukum terhadap para koruptor.
"Semua seperti menguap begitu saja. Korupsi seakan menjadi cerita yang tidak akan pernah selesai," terang Franz.
Maraknya praktik korupsi, kata Franz, terjadi akibat kepemimpinan yang lemah. Selain itu, karena hukum tidak ditegakkan sebagaimana mestinya.
"Ada tiga cara menghilangkan korupsi. Yaitu konstitusi, KPK dan kepemimpinan nasional," tandas Franz. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/16/49225/Romo-Magnis-Beberkan-Penyebab-Sakit-Hati-Rakyat-
Demikian disampaikan rohaniawan Frans Magnis Suseno, saat menjadi pembicara dalam diskusi yang di gelar Organisasi Liga Mahasiswa Nusantara (Limantara) di Jakarta (Jumat malam, 16/12).
Franz mengatakan, ada banyak faktor yang memicu krisis kepercayaan. Salah satunya adalah ketidakjelasan dalam menegakkan hukum terhadap para koruptor.
"Semua seperti menguap begitu saja. Korupsi seakan menjadi cerita yang tidak akan pernah selesai," terang Franz.
Maraknya praktik korupsi, kata Franz, terjadi akibat kepemimpinan yang lemah. Selain itu, karena hukum tidak ditegakkan sebagaimana mestinya.
"Ada tiga cara menghilangkan korupsi. Yaitu konstitusi, KPK dan kepemimpinan nasional," tandas Franz. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/16/49225/Romo-Magnis-Beberkan-Penyebab-Sakit-Hati-Rakyat-
Menurut Mahasiswa, SBY Benar-benar Sudah Hilang Rasa
RMOL. Mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Kamis malam (15/12), turun ke jalan menggelar aksi solidaritas untuk Sondang Hutagalung. Di depan Kampus Unas, Jakarta, mereka menyalakan lilin dan menaburkan bunga di atas foto Sondang.
Ponco, mahasiswa Unas yang ikut aksi, mengatakan, aksi bakar diri yang dilakukan Sondang merupakan kepedulian anak bangsa terhadap kondisi negara saat ini. Presiden SBY, kata dia, benar-benar sudah hilang rasa. Dia sudah tidak peka terhadap segala permasalahan yang dialami rakyat.
"SBY tak pantas lagi memimpin bangsa ini," kata Ponco saat memberikan orasinya.
Selain aksi lilin dan tabur bunga, para mahasiswa Unas juga akan melakukan aksi jalan kaki dari kampus Unas menuju kawasan lampu merah Republika (Pejaten Village).
"Ini merupakan bentuk kampanye untuk mengundang keprihatinan masyarakat luas atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan Istana," jelas Ponco mengutarakan alasannya. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/15/49109/Menurut-Mahasiswa,-SBY-Benar-benar-Sudah-Hilang-Rasa-
Ponco, mahasiswa Unas yang ikut aksi, mengatakan, aksi bakar diri yang dilakukan Sondang merupakan kepedulian anak bangsa terhadap kondisi negara saat ini. Presiden SBY, kata dia, benar-benar sudah hilang rasa. Dia sudah tidak peka terhadap segala permasalahan yang dialami rakyat.
"SBY tak pantas lagi memimpin bangsa ini," kata Ponco saat memberikan orasinya.
Selain aksi lilin dan tabur bunga, para mahasiswa Unas juga akan melakukan aksi jalan kaki dari kampus Unas menuju kawasan lampu merah Republika (Pejaten Village).
"Ini merupakan bentuk kampanye untuk mengundang keprihatinan masyarakat luas atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan Istana," jelas Ponco mengutarakan alasannya. [dem]
http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/15/49109/Menurut-Mahasiswa,-SBY-Benar-benar-Sudah-Hilang-Rasa-
Aneh Tapi Nyata, Seminggu Kepergian Sondang Bertepatan dengan Satu Tahun Bakar Diri Mohamed Bouazizi
RMOL. Besok, Sabtu (16/12), tepat satu minggu kematian Sondang Hutagalung. Berbagai aktivis lintas gerakan pun merencanakan mengenang kepergian Sondang.
Informasi yang dihimpun Rakyat Merdeka Online, Aksi Nasional Solidaritas untuk Sondang akan dipusatkan di depan Istana Negara. Sementara itu, titik kumpul aksi berada di kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jalan Diponegoro, Jakarta.
Mustar Bonaventura, salah satu aktivis yang tergabung dalam Aksi Nasional Solidaritas untuk Sondang mengatakan aksi juga akan dilakukan serentak di 47 Kota, antara lain Jakarta, Bandung, Bogor, Banten dan Cianjur.
"Yang aneh tapi nyata, aksi besok, yakni pada tanggal 17 Desember bukan hanya peringatan seminggu meninggalnya Sondang tetapi juga tepat setahun aksi Mohamed Bouazizi. Baik Sondang maupun Bouazizi sama-sama pelaku aksi bakar diri, Bouazizi di Tunisia dan Sondang di Indonesia," kata Mustar.
Solidaritas kepada Sondang tak berhenti pada aksi unjuk rasa besok, tapi juga berlanjut hingga Hari Solidaritas Internasional Sedunia yang akan jatuh pada 20 Desember.
"Solidaritas akan dilakukan dengan berbagai kegiatan antara lain unjuk rasa, diskusi, seminar, pameran foto Sondang, penyebaran pamflet, poster dan pemutaran film dokumenter termasuk mengenang berbagai aktivis yang juga melaukukan aksi bakar diri seperti Jan Palach di Cekoslowakia, Thich Quang Duc di Saigon, K. Muthukamar di India dan Mohamed Bouazizi di Tunisia," demikian Mustar.[arp]
Informasi yang dihimpun Rakyat Merdeka Online, Aksi Nasional Solidaritas untuk Sondang akan dipusatkan di depan Istana Negara. Sementara itu, titik kumpul aksi berada di kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jalan Diponegoro, Jakarta.
Mustar Bonaventura, salah satu aktivis yang tergabung dalam Aksi Nasional Solidaritas untuk Sondang mengatakan aksi juga akan dilakukan serentak di 47 Kota, antara lain Jakarta, Bandung, Bogor, Banten dan Cianjur.
"Yang aneh tapi nyata, aksi besok, yakni pada tanggal 17 Desember bukan hanya peringatan seminggu meninggalnya Sondang tetapi juga tepat setahun aksi Mohamed Bouazizi. Baik Sondang maupun Bouazizi sama-sama pelaku aksi bakar diri, Bouazizi di Tunisia dan Sondang di Indonesia," kata Mustar.
Solidaritas kepada Sondang tak berhenti pada aksi unjuk rasa besok, tapi juga berlanjut hingga Hari Solidaritas Internasional Sedunia yang akan jatuh pada 20 Desember.
"Solidaritas akan dilakukan dengan berbagai kegiatan antara lain unjuk rasa, diskusi, seminar, pameran foto Sondang, penyebaran pamflet, poster dan pemutaran film dokumenter termasuk mengenang berbagai aktivis yang juga melaukukan aksi bakar diri seperti Jan Palach di Cekoslowakia, Thich Quang Duc di Saigon, K. Muthukamar di India dan Mohamed Bouazizi di Tunisia," demikian Mustar.[arp]
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter
Facebook